Senin, 30 Agustus 2010

mikrobiologi lingkungan

MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN 2
Interaksi Mikroorganisme dengan Senyawa Xenobiotik & Polutan Anorganik

Senyawa xenobiotik: senyawa yang tidak dibentuk oleh proses alamiah (senyawa “asing”)
Yg tergolong senyawa xenobiotik: freon, pelarut organik, PCB, plastik, deterjen, bahan peledak, pestisida, dll.
Senyawa anorganik menjadi polutan karena aktivitas manusia, misal: penambangan, pemupukan berlebihan, dll.

Pada prinsipnya:
Semua senyawa alamiah dapat mengalami degradasi menjadi senyawa yang lebih sederhana
Yang menjadi masalah adalah senyawa-senyawa sintetik hasil sintesis kimia, termasuk sbb:
o halobenzene, halophenols, halobenzoate, senyawa nitroaromatik, Polychlorinated Biphenyls (PCBs)

Mengapa senyawa sintetik tidak dapat di degradasi secara alamiah?
• Interaksi mikroorganisme dengan polutan dapat menguntungkan sekaligus merugikan bagi makhluk hidup lain,termasuk tanaman, hewan dan manusia

Interaksi merugikan:
• Konversi senyawa nitrat menjadi nitrit
• Metilasi
• Akumulasi logam berat & radionuclide

Interaksi menguntungkan:
• Degradasi hidrokarbon
• Degradasi pestisida
________________________________________

Bioremediasi dengan Mikroorganisme
Bioremediasi: penggunaan agen biologi dalam usaha membersihkan lingkungan yang tercemar.
Proses bioremediasi merupakan pengembangan dari proses pengendalian limbah yang pada umumnya menggunakan mikroorganisme untuk membersihkan limbah




From your reading packet
Deni & Penninckx 1999:
• Rational of the study: nitrifying bacteria seem to be good candidates for hydrocarbon remediation  need to study the effect of adding hydrocarbon to nitrification process.
• investigating the effect of hydrocarbon to nitrifying bacteria in uncontaminated soil & polluted soil.

Results:
• addition of hydrocarbon to uncontaminated soil stimulated immobilization of N and reduced nitrification
• Ammonia-oxidizing bacteria in polluted soil acquired resistance to inhibition by hydrocarbon
Kelas Zat Kimia
Kelas zat kimia yang sering diolah dengan bioremediasi
Kelas Jenis Bahan Kimia
Fuel hydrocarbons Benzene, Toluene
PAH's (Polychlorinated aromatic hydrocarbons) Creosote
PCB's (Polychlorinated biphenyls) Aroclor
Chlorinated solvents TCE (Trichloroethylene)
Chlorinated aromatic compounds Chlorobenzene
Chlorophenols Pentachlorophenol
Nonhalogenated phenolics 2-Methylphenol
Pesticides 2,4-D, Atrazine
Explosives TNT (2,4,6-Trinitrotuluene)
Nitrogen heterocyclics Pyridine
Radionuclides Plutonium
Anions Nitrate
Metals Lead

• Remediasi merupakan kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah.
• Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui:
• perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan fosfat (P), jenis tanah, kondisi tanah (basah, kering),
• telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut, kondisi pencemaran (penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
• Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site).
• Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
• Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar.
• Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di tangki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

A. Pengertian Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).
Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
Bioremediasi pada lahan terkontaminasi logam berat didefinisikan sebagai proses membersihkan (cleanup) lahan dari bahan-bahan pencemar (pollutant) secara biologi atau dengan menggunakan organisme hidup, baik mikroorganisme (mikrofauna dan mikroflora) maupun makroorganisme (tumbuhan).
Bioremediasi juga dapat didefinisikan sebagai proses yang menggunakan mikroba, tanaman , enzim mikroba atau tanaman untuk menawarkan racun polutan di tanah atau lingkungan (Skipper, 1998, Skladany dan Metting Jr, 1993)
.
Konsep bioremediasi tersebut termasuk di dalamnya proses-proses : biodegradasi yang menunjuk pada panawaran atau transformasi senyawa beracun secara total atau parsial oleh mikroba dan tanaman; mineralisasi yang menunjukkan perubahan menyeluruh bahan organik polutan menjadi senyawa inorganik dan kometabolisme yang menunjuk pada proses perubahan polutan tanpa mengubah karbon atau energi untuk mikroba pelapuk. (Skipper, 1998).

Bioremediasi dipertimbangkan sebagai penanganan kontaminan didasarkan pada beberapa kriteria yaitu ( Mullen, 1998) :
1. Organisme yang digunakan harus mempunyai aktaivitas katabolisme untuk menghancurkan kontaminan dengan laju yang mencukupi untuk membuat konsentrasi kontaminan menurun mencapai standar
2. Secara biologis kontaminan dapat dicapai oleh organisme
3. Lingkungan mendukung untuk pertumbuhan mikroba, tanaman atau aktivitas enzimatik
4. Biaya bioremediasi harus lebih murah atau paling kurang sama dengan teknologi lain
Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :
1. stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb
2. inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
3. penerapan immobilized enzymes
4. penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar/
Dasar-Dasar Teknologi
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan.
• Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan.
• Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
1. pengolahan secara fisika
2. pengolahan secara kimia
3. Pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
Pengolahan Secara Fisika
• pengendapan : sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.







































Gambar 1. Skema Diagram Pengolahan Fisik

• Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya.
• Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
• Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.
• Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.
• Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.
Pengolahan Secara Kimia
• Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan.




















Gambar 2. Skema Diagram pengolahan Kimiawi

• Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan.
Pengolahan secara biologi

• Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi.
• Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).

• Proses lumpur aktif : Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspens antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi.
• Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.
• Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi.
• Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.
Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:
1. trickling filter
2. cakram biologi
3. filter terendam
4. reaktor fludisasi
Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.






























Gambar 3. Skema Diagram pengolahan Biologi

Dalam prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas. Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi.





Pencemaran Lingkungan


Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera diatasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.



Sumber Pencemar
Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara.
Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industi, dan pembakaran sampah. Pencemar udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi.
Pencemaran sungai dan air tanah terutama dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama berupa BOD, COD, dan zat organik. Limbah cair industri menghasilkan BOD, COD, zat organik, dan berbagai pencemar beracun. Limbah cair dari kegiatan pertanian terutama berupa nitrat dan fosfat.

Proses Pencemaran
• Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
• Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah.
• Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran. Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis).

Langkah Penyelesaian
Penyelesaian masalah pencemaran terdiri :
• pencegahan dan pengendalian.
• Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya.
• Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan.

Pencemaran Tanah
• Jenis Pencemaran Tanah

Tanah berperan penting dalam pertumbuhan mahluk hidup, memelihara ekosistem, dan memelihara siklus air. Kasus pencemaran tanah terutama disebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (ilegal dumping), kebocoran limbah cair dari industri atau fasilitas komersial, atau kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, yang kemudian tumpah ke permukaan tanah.

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah.
• Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Remediasi

Kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah dikenal dengan remediasi. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui:
1. Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
2. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
3. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
4. Jenis tanah,
5. Kondisi tanah (basah, kering),
6. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Remediasi On-site dan Off-site
Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site).
Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar.
Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Limbah Cair : a. Limbah Industri.
• Sifat-sifat air limbah industri relatif bervariasi tergantung dari sumbernya. Limbah jenis ini bukan saja mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD, COO maupun kandungan organiknya, tetapi juga mengubah struktur kimia air akibat masuknya zat-zat anorganik yang mencemari.
• Penanganan limbah ini diiakukan dengan cara memasang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sebelum dibuang ke lingkungan atau badan air, dan penanganan sistem pembuangan limbah domestik itu sendiri.
• Limbah cair domestik dan tinja. Secara sederhana, penanganan limbah cair domestik dan tinja dengan membangun septiktank untuk setiap perumahan atau septiktank komunal di pemukiman padat penduduk secara kolektif, bagi daerah yang belum mempunyai pengolahan limbah cair domestik secara terpadu.
• Air Limbah Pertanian. Berasal dari sedimen akibat erosi lahan, unsur kimia limbah hewan atau pupuk (umumnya fosfor dan nitrogen), dan unsur kimia dari pestisida. Pengendalian dapat dilakukan dengan membuat penampungan di samping melakukan penanganan baik dalam kolam terbuka maupun tertutup, dan sistem pemupukan dan pemberantasan hama/penyakit dengan komposisi yang tepat
Limbah karbohidrat.
• Proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dihasilkan limbah sekitar 2/3 bagian atau sekitar 75% dari bahan mentahnya yang disebut onggok.
Onggok memiliki bau tak sedap yang muncul akibat terjadinya proses pembusukan yang amat cepat. Kandungan karbohidrat singkong ini mencapai 72,49%-85,99%, sementara kadar airnya 14,09%. Tingginya kandungan karbohidrat dan kadar air inilah yang mempermudah aktifitas mikroba pengurai. Proses penguraian bisa bersifat aerob (membutuhkan oksigen) dan bisa pula bersifat anaerob (tidak membutuhkan oksigen) menghasilkan bau berupa H2S dan NH3 serta berbagai gas berbau menyengat lainnya.
Teknologi biokonversi.
Teknologi yang mengkonversi bahan secara enzimatik dan biologik (biasanya melalui fermentasi) yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi onggok. Cara pengolahan limbah secara biokonversi ini cukup dengan menampung onggok di suatu wadah untuk menjalani proses fermentasi menggunakan jasad renik (ragi atau jamur). Strain yang digunakan Candida utilis, Trichoderma harzianum dan Trichoderma viride. Trichoderma harzianum paling baik digunakan untuk keperluan ini, karena selama proses fermentasi akan menghasilkan enzim selulase b-1,3 glukanase yang mampu meningkatkan kadar protein.
Hasil fermentasi onggok ini bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Hasil fermentasi limbah pabrik tapioka untuk pakan ternak ini secara kualitatif cukup bagus, karena jamur yang digunakan memiliki enzim yang mampu memecah karbohidrat yang akan meningkatkan kadar protein bahan.
Selain itu jamur Trichoderma harzianum juga memiliki sifat antifungi sehingga selama proses fermentasi berlangsung dapat mencegah pertumbuhan jamur lain yang tidak diharapkan. Sehingga sebagai pakan ternak hasil fermentasi limbah ini cukup aman.

Limbah Protein.
• Pabrik tahu terkenal sebagai sumber pencemaran sungai dan bau busuk.
• Limbah yang dibuang ke sungai membuat turun mutu airnya. Pada tahun 1990 ditemukan cara pemanfaatan limbah tahu itu menjadi nata de soya.
• Pengolahan limbah tahu menjadi nata itu melibatkan bakteri Acetobacter xylinum, yang memakai protein dan karbohidrat dalam limbah itu sebagai sumber energi untuk hidup dan berbiak.
• Mula-mula, limbah tahu cair yang sudah disaring dan terbebas dari limbah padat, dicampur dulu dengan gula pasir, urea, dan amoniumfosfat, lalu direbus selama seperempat jam. Sesudah ditambah asam asetat (cuka) pekat, agar pH larutan turun sampai 4, larutan dituang ke dalam bak fermentasi setinggi 2 cm, lalu didinginkan. Tetapi harus ditutup dengan kertas bersih dan diikat, supaya tidak tercemar kotoran dari luar. Sesudah dingin, larutan dituangi bibit bakteri dalam larutan, sebanyak 10-20% volume larutan sari tahu, lalu dibiarkan menjalani fermentasi selama 8-10 hari.
• Di dekat permukaan cairan akan terbentuk lapisan nata setebal ± 2 cm. Inilah yang dipanen, yang setelah direndam dalam air bersih yang baru selama 3 hari, akan bersih dari sisa-sisa asam cuka dan zat kimia lainnya. Dalam proses itu dihasilkan nata berupa lapisan padat seperti agar-agar di dekat permukaan cairan pemeliharaan.

Limbah organik.
Limbah organik yang berasal dari kotoran ternak sapi. Kotoran ternak umumnya terdapat di sekitar kandang belakang rumah atau dibuang ke saluran air. Limbah organik belum diolah menjadi kompos oleh peternak
• Proses pengolahan limbah organik yang dapat dilakukan ialah proses pengomposan dengan bantuan biostarter dan cacing tanah (vermicomposting). Penggunaan biostarter dapat mempercepat proses dekomposisi dari 3 bulan menjadi 1 bulan. Pengomposan dengan bantuan cacing tanah menghasilkan pupuk organik dengan mutu yang lebih baik tetapi secara teknis sulit dilakukan dalam skala besar.

Limbah Petroleum.
Minyak pelumas bekas termasuk ke dalam daf tar limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), oleh karena itu minyak pelumas bekas memerlukan penanganan khusus dalam pengelolaannya.
• Untuk menanggulangimya dilakukan proses bioremediasi dengan metode slurry-phase untuk mendegradasi kandungan hidrokarbon pada minyak pelumas bekas dalam reaktor-reaktor yang dioperasikan secara batch.
• Karakteristik yang khas dari metode ini adalah adanya suspensi dari material terkontaminasi baik fasa padat maupun sludge dalam suatu medium aquoeus. Fasa slurry diperoleh dengan cara menambahkan sejumlah tertentu air atau air buangan sehingga dicapai kondisi slurry (slurry density) yang diinginkan.
• Percobaan dilakukan dengan reaktor-reaktor yang dioperasikan dalam 2 seri. Seri pertama ditujukan untuk meneliti proses degradasi minyak pelumas oleh bakteri indigenous-bakteri yang hidup di tanah terkontaminasi minyak pelumas- dan bakteri augmentasi, yaitu bakteri yang sebelumnya telah diisolasi dari tanah terkontaminasi minyak pelumas bekas dan dibiakkan di laboratorium.
• Tanah terkontaminasi diolah pada reaktor serf pertama tanpa disterilkan terlebih dahulu. Sementara itu, seri kedua ditujukan untuk proses degradasi minyak pelumas hanya oleh bakteri hasil bioaugmentasi saja, sehingga tanah yang akan diolah dalam reaktor ini disterilkan terlebih dahulu.

Limbah Logam Berat.
• Beberapa jenis polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan, selain gas beracun, adalah logam kimia berbahaya jenis logam berat, seperti tembaga (Cu), kobait (Co), timbal (Pb), kadmium (Cd), kromium (Cr), mangan (Mn), raksa (Hg), nikel (Ni), senyawa pestisida dan senyawa organik.
• Jika melewati ambang batas, keberadaan jenis-jenis polutan tersebut diketahui bersifat racun dan teratogenik, juga bersifat karsinogenik, yaitu dapat menimbulkan terjadinya penyakit kanker. pengolahan limbah berbahaya ini dapat menggunakan teknologi fitoremediasi.
• Fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya, seperti logam berat, pestisida.
• Ada empat informasi penting yang dicari dalam penelitian menggunakan teknologi ini.
Pertama, kemampuan daya akumulasi berbagai jenis tanaman untuk berbagai jenis logam dan konsentrasi, sifat kimia dan fisika tanah, dan sifat fisiologi tanaman.
Kedua, spesifikasi transpor dan akumulasi logam.
Ketiga, mekanisme akumulasi dan hiper-akumulasi ditinjau secara fisiologi, biokimia, dan molekular.
Keempat, kesesuaian sistem biologi dan evolusi pada akumulasi logam.

Teknologi mengolah limbah dengan sistem Phytoremediasi, menggunakan tanaman sebagai alat pengolah bahan pencemar. Pada limbah padat atau cair yang akan diolah, ditanami dengan tanaman tertentu yang dapat menyerap, mengumpulkan, mendegradasi bahan-bahan pencemar tertentu yang terdapat di dalam limbah tersebut.
Banyak istilah yang diberikan pada sistem phytoremediasi sesuai dengan mekanisme yang terjadi pada prosesnya. Misalnya :

Phytostabilization: Polutan distabilkan di dalam tanah oleh pengaruh tanaman. Phytostimulation: akar tanaman menstimulasi penghancuran polutan dengan bantuan bacteri rhizosphere
Phytodegradation: tanaman mendegradasi polutan dengan atau tanpa menyimpannya di dalam daun, batang atau akarnya untuk sementara waktu. Phytoextraction: polutan terakumulasi dijaringan tanaman terutama daun.



Phytovolatilization: polutan oleh tanaman diubah menjadi senyawa yang mudah menguap sehingga dapat dilepaskan ke udara. Rhizofiltration: polutan diambil dari air oleh akar tanaman pada sistem hydroponic.
• Proses remediasi polutan dari dalam tanah atau air terjadi karena jenis tanaman tertentu dapat melepaskan zat carriers yang biasanya berupa senyawaan kelat, protein, glukosida yang berfungsi mengikat zat polutan tertentu kemudian dikumpulkan dijaringan tanaman misalnya pada daun atau akar.




• Keunggulan sistem phytoremediasi diantaranya ialah biayanya murah dan dapat dikerjakan insitu, tetapi kekurangannya diantaranya ialah perlu waktu yang lama dan diperlukan pupuk untuk menjaga kesuburan tanaman, akar tanaman biasanya pendek sehingga tidak dapat menjangkau bagian tanah yang dalam. Yang perlu diingat ialah setelah dipanen, tanaman yang kemungkinan masih mengandung polutan beracun ini harus ditangani secara khusus.
B. Pengolahan Limbah Logam Berat


Kelas zat kimia yang sering diolah dengan bioremediasi
Fuel hydrocarbons Benzene, Toluene
PAH's (Polychlorinated aromatic hydrocarbons) Creosote
PCB's (Polychlorinated biphenyls) Aroclor
Chlorinated solvents TCE (Trichloroethylene)
Chlorinated aromatic compounds Chlorobenzene
Chlorophenols Pentachlorophenol
Nonhalogenated phenolics 2-Methylphenol
Pesticides 2,4-D, Atrazine
Explosives TNT (2,4,6-Trinitrotuluene)
Nitrogen heterocyclics Pyridine
Radionuclides Plutonium

• Bakteri yang memiliki kapasitas untuk mendegradasi senyawa yang terdapat di dalam petroleum hidrokarbon dikenal sebagai bakteri hidrokarbonoklastik.

• Tranformasi biologis pencemar minyak yang sebenarnya adalah merupakan proses mineralisasi material organik dengan produk akhir gas karbondioksida yang ditandai dengan adanya peningkatan biomasa bakteri itu sendiri.

• Proses degradasi sendiri tidak hanya tergantung pada struktur kimia dari petrol akan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti pH, salinitas perairan, dan lebih spesifik lagi adalah ketersediaan oksigen di lingkungan.

USING A MICROBIAL CONSORTIA AS INNOCULUM
B.A. Molnaa And R.B. Grubbs, Solmar Corporation
(R.B. Grubbs is a Technical Advisor to U.S. Microbics)
ABSTRACT
Bioremediation is becoming an attractive alternative for cleaning up soil systems contaminated with petroleum and other hydrocarbons. Due to time constraints and unknown quality of results, certain projects have not had bioremediation as an option.
A process has been developed in which a consortia of micro-organisms is introduced into the soil system to facilitate the bioremediation process and ensure consistency of results.
Techniques to enhance the activity of the organisms and thus ensure the success of such programs are described. Several successful projects are described along with potential roadblocks to bioremediation and how one can work around such roadblocks. Degradation parameters for these projects are discussed.
INTRODUCTION
In the past few years, as landfills have become more and more scarce and concomitantly more and more cost prohibitive, interest in biological methods to treat organic wastes has increased.
One area, in particular, that has received increased attention is the biological treatment of petroleum contaminated soils.
The term bioremediation has been given to describe the process by which the use of living organisms (in conjunction with or independent from other technologies) is employed to effectively decontaminate a polluted system. In most cases, the organisms employed are bacteria; however, work is being conducted using fungi and plants. Water hyacinths have been utilized in water systems to effectively remove trace organics and trace metals.

There are two techniques for utilizing bacteria to degrade petroleum in the soil.
One method uses the bacteria that can already be found in the soil. These bacteria are stimulated to grow by introducing nutrients into the soil and thereby enhancing the biodegradation process.
This process is known as biostimulation. The other method involves culturing the bacteria independently and adding them to the site.
This process is known as bioaugmentation(8).
One advantage of bioremediation is that the process can be done on site with a minimum amount of space and equipment. By treating a site, costs and liability are greatly reduced while extending the life of our current landfills by reducing the amount of waste they would normally receive.
On site treatment may involve excavation of the contaminated soil and construction of a lined treatment cell. If excavating is impractical the treatment may be conducted without disturbing the contaminated site by using a recirculating injection well system. This process is considered in situ treatment(5,8).
Both on site and in situ treatment have their advantages and disadvantages and the decision to use one method of treatment or the other is often dictated by various factors at the site.
ON SITE VERSUS IN SITU TREATMENT
On site treatment whereby the contaminated soil is excavated and placed into a lined treatment cell has some distinct advantages.
It allows for better control of the system by enabling the engineering firm to dictate the depth of soil as well as the exposed surface area. By controlling the depth and exposed surface area of the soil, one is able to better control the temperature nutrient concentration moisture content and oxygen availability(8).
On site treatment has an added benefit in that it is much easier to demonstrate the site is clean than in an in situ cleanup. By isolating the contaminated soil in the treatment cell, it is possible to sample the site in a more thorough, and therefore, representative manner. This may prove a necessity if the regulating agency or the customer desire to optimize the reliability of sampling and analysis.
The excavation of the contaminated soil adds to the cost of a bioremediation project as does the liner and the landfarming equipment. In addition to these costs, it is necessary to find enough space to treat the excavated soil on site. In some states, areas are now being set aside to provide the needed space to treat these soils.
In situ treatment is advantageous in instances where the excavation of the contaminated soil is cost prohibitive or impossible. The method of in situ treatment generally involves establishing a hydrostatic gradient through the area of contamination.
Water is placed on the site so that it will flow through the area of contamination, carrying nutrients and possibly organisms to the contaminants. Once the water has passed through the site, it is pumped up through wells, and returned to the beginning of the system. This continuous recirculation is carried on until the site has been determined to be clean (Figure 1).

BIOSTIMULATION VS. BIOAUGMENTATION
Along with deciding whether or not a site should be remediated using on site treatment or in situ treatment, it is necessary to decide how one is going to bioremediate the site. As stated above, there are two methods of employing microorganisms to bioremediate a site.
Biostimulation involves the stimulation of indigenous microorganisms to degrade the contaminant. Bioaugmentation involves adding preselected organisms to the site to degrade the contaminant.
A biostimulation project requires that adjustments be made to the soil to enhance the microbial populations already present. These include adding a nitrogen source, a phosphorous source, and a myriad of trace minerals and making appropriate pH adjustments. For an on site treatment, the nutrients are spread over the site and worked into the soil. For an in situ treatment, the nutrients are added to the water upstream in the hydrostatic gradient.
Biostimulation assumes that every organism needed to accomplish the desired treatment results are, in fact, present. Therefore, all that is required to achieve effective biodegradation is to provide (or enhance) an ideal environment for these ubiquitous microorganisms to live and work(8).
Bioaugmentation is the controlled addition of specially formulated biocultures to assist those found naturally in the soil. It is done in conjunction with the development and monitoring of an ideal growth environment in which these selected bacteria can live and work.
In most cases, the targeted organic contaminants either serve as the food source or are co-metabolized. Essential elements are added to the "food source" to provide the required nutrient levels, and water provides the media in which the bacteria function.
The mere addition of bacteria will not, in itself, solve the problem. Studies conducted in 1979 by Dibble and Bartha clearly demonstrated that sewage sludge actually inhibited hydrocarbon biodegradation in soil, and the use of yeast extract had no effects whatsoever(2). The selected microorganisms must be carefully matched to the waste contamination present in the soil, as well as the metabolites formed. They must favorably compete with the ubiquitous organisms found in the expected environmental conditions.
Bioaugmentation allows one to control the nature of the biomass. It provides an element, heretofore not available, that of predictability. Bioaugmentation ensures that the proper team of microorganisms is present in the soil in sufficient type, number, and comparability to effectively and efficiently attack the waste constituents and break them down into their most basic compounds.

KERACUNAN PADA MAKANAN
XENOBIOTIK, LOGAM DAN MIKROBA


Makanan adalah salah satu sumber energi bagi mahluk hidup. Namun, tak semua makanan dapat menghasilkan energi yang baik bagi mahluk hidup. Mengapa terjadi hal yang demikian ? Bisa kita lihat bahwa tak semua makanan baik bagi tubuh, manusia khususnya. Adakah sesuatu dalam makanan yang patut kita cari tahu kadar dan fungsinya ? Tentu saja ada dan zat-zat tersebut itu biasa kita sebut dengan Xenobiotik.
Xenobiotik adalah senyawa-senyawa kimia asing (xenos ) yang terdapat di dalam makanan, xenobiotik itu sendiri bisa berupa zat-zat kimia yang dengan sengaja dimasukkan ke dalam makanan sebagai pelengkap ataupun secara tidak sengaja senyawa tersebut tidak terdapat pada makanan. Adapun contoh xenobiotik yang terdapat dalam makanan adalah bahan-bahan pengawet, zat warna, penyedap rasa, , pestisida, logam berat, obat, atau zat kimia lainnya. Namun zat-zat makanan tersebut tak selamanya baik bagi tubuh, karena dosis yang terlalu berlebihan bisa menjadi suatu toksik atau racun pada tubuh yang bisa berupa limbah protein, karbohidrat atau logam berat. Keanekaragaman dan kemajuan macam-macam xenobiotik itu sendiri makin hari makin berkembang dan makin meningkat pula jumlah xenobiotik yang ada pada makanan, hal ini dikarenakan kemajuan teknologi dan mungkin karena zat-zat kimia sudah terlalu erat hubungannya dengan kehidupan manusia, maka tak jarang bila zat-zat kimia atau xenobiotik selalu ada di dalam makanan.
Pada jaman dulu, toksisitas atau sifat beracun pada makanan dipelajari pada toksikolaogi, namun dewasa ini toksikologi tak hanya mengurusi atau mempelajari mengenai toksik saja, tetapi toksikologi telah meluas hingga mencakup zat keamanan. Zat keamanan adalah zat kimia yang baik bagi manusia dan dapat mengurangi pengaruh toksik yang dihasilkan oleh xenobiotik.
Melihat bahwa xenobiotik memiliki dampak positif dan negatif, maka pemerintah mengeluarkan undang-undang guna melindungi masyarakat dari keracunan atau toksisitas masal, terlebih xenobiotik yang ada belum diuji apakah baik bagi tubuh atau buruk bagi tubuh.
Namun bila kita lihat dengan seksama, xenobiotik yang merugikan dan tidak baik bagi tubuh justru mau tidak mau harus masuk dan termakan oleh kita. Kenapa bisa demikian ? Karena, xenobiotik yang terdapat di dalam makanan berasal dari zat-zat kimia yang secara tidak langsung kita pergunakan pada saat pembasmian hama, atau dengan kata lain zat kimia atau xenobiotik tersebut berasal dari pestisida. Adapun contoh pestisida yang biasa masuk ke dalam tubuh kita adalah, kadmium, timah hitam, merkuri, aflatoxin, dsb. Adapun cara yang dapat kita lakukan guna mencegah terjadi hal yang demikian ialah dengan cara melakukan penelitian prospektif. Penelitian ini dinilai kurang etis dalam segi kedokteran dan kesehatan, karena di sini kita memerlukan “kelinci percobaan” yaitu manusia yang sehat, dan untuk selanjutnya kita masukkan zat-zat kimia atau xenobiotik tersebut ke dalam tubuhnya. Lalu kita lihat perkembangannya, apakah ia akan sakit atau sehat-sehat saja. Tapi tetap saja, penelitian dengan medium manusia masih terlalu riskan dan berbahaya.
Bila melihat pada kadar atau dosis xenobiotik pada manusia, maka kita tidak tahu apakah xenobiotik itu berbahaya atau tidak. Karena pada penelitian yang lebih lanjut, kadar atau dosis xenobiotik pada manusia bisa dikatakan racun atau bisa juga dikatakan tidak (bersifat relatif). Sebagai contoh, pada tubuh manusia sering dijumpai zat toksik berupa sianida dalam jumlah yang sangat kecil, walaupun sianida adalah toksik namun tak berpengaruh banyak pada tubuh manusia atau tidak bisa menyebabkan kematian.
Manusia berusaha agar dampak buruk xenobiotik sekecil mungkin. Hal ini menyebabkan diterimanya faktor keamanan (safety factor) yang menentukan nilai ambang batas xenobiotik. Nilai ambang batas atau Acceptable Daily Intake (= ADI) atau Tolerance Level didefinisikan sebagai “The daily intake of a chemical which, during an entire lifetime, appears to be without appreciable risk on the basis of all (available and) known facts at the time.”
Faktor keamanan" ditentukan dengan cara arbitrary, yaitu menurut konsensus ilmiah. Faktor ini dapat bervariasi antara >1 - 5000. sehingga nilai ambang batasnya dihitung 1/(>1 - 5000) dari dosis terbesar yang tidak menyebabkan kelainan pada hewan coba (= no-effect level = NEL). Variasi faktor keamanan tergantung berat-ringannya kelainan yang mungkin ditimbulkan oleh xenobiotik, misalnya :
Kelainan atau situasi Faktor keamanan
• iritasi kulit 2 – 5
• pekerja tertentu dalam pabrik 2 – 5
• xenobiotik dalam makanan 80 – 100
• karsinogenesis 5000 atau tidak diperkenankan sama sekali
Contoh:
Merkuri dalam ikan : tolerance level : 0.5 ppm -- (part per million), namun (ikan di Niigata mengandung 40 ppm)
aflatoxin: 15 ppb -- (part per billion)
Bila NEL suatu xenobiotik telah ditentukan pada hewan coba maka menurut WHO-FAO Joint Commission on Food Additives, Acceptable Daily Intake dihitung dengan cara sbb:
Acceptable Daily Intake = 1/100 x NEL mg/kg BB/hari
NEL berarti No observed effect level, yaitu: “The maximal dose level that has not induced any sign of toxicity in the most susceptible species of animals tested and using the most sensitive indicator of toxicity”. Ini berarti bahwa faktor keamanan untuk zat tambahan makanan telah ditentukan sebesar 100. Bila kemudian kita perlu menentukan Maximal Permissible Concentration (MPC) dalam makanannya sendiri, maka: MPC = ADI x Berat Badan /Food Factor (ppm)
ADI dinyatakan dalam mg/kg BB, berat badan dalam kg. Food factor dalam kg, yaitu konsumsi rata-rata suatu makanan dalam kg / orang / hari
Adapun factor toksik pada keracunan adalah mikroorganisme yang menyebabkan kerusakan pada tubuh. Dan apabila kita cermati dengan baik maka keracunan terjadi karena 3 faktor dan ketiga faktor tersebut menjadi tipe dan dasar dari keracunan.
Ada tiga tipe keracunan dalam makanan yaitu kimiawi, biologi, dan mikrobiologi. Keracunan makanan secara kimiawi disebabkan adanya bahan kimia beracun dalam makanan. Misalnya keracunan karena akumulasi logam tertentu (seperti timah, merkuri, dan cadmium) di dalam tubuh.
Kadar merkuri dan cadmium yang tinggi ditemukan dalam ikan yang ditangkap dari perairan yang mengalami pencemaran limbah industri. Keracunan timah dapat timbul dari air minum yang melewati pipa yang terbuat dari timah hitam. Kasus Minamata di Jepang yang mematikan 52 orang dan sekira 100 orang menderita kerusakan otak akibat mengonsumsi ikan yang mengandung metil merkuri kadar tinggi.
Keracunan makanan secara biologis disebabkan mengonsumsi bahan makanan (tanaman) yang mengandung substansi beracun. Ada beberapa spesies jamur beracun, seperti Amanita phalloides dan A.virosa, yang dapat menyebabkan kematian. Kasus ini pernah terjadi di daerah Tasikmalaya, ketika seorang kakek yang memakan sup jamur kemudian meninggal dunia.
Jamur-jamur beracun memiliki tampilan yang mirip dengan jenis jamur yang biasa dimakan karena itu banyak orang tidak tahu apakah jenis jamur tersebut layak untuk dimakan atau tidak. Kentang hijau mengandung solanin yang bisa menyebabkan kematian jika dimakan dalam jumlah besar, karena itu sebaiknya kentang hijau dibuang. Mengonsumsi bayam dalam kondisi normal yaitu dalam jumlah secukupnya adalah tidak berbahaya. Adanya asam oksalat dalam bentuk kalium oksalat pada bayam jika dikonsumsi dalam jumlah banyak menjadi membahayakan.
Penyakit yang ditularkan melalui makanan timbul setelah memakan makanan yang tercemar mikroorganisme patogen (penyebab penyakit). Dari kelompok mikroorganisme patogen yang menular dalam makanan adalah jenis-jenis bakteri, kapang, dan virus.
Menurut Supardi dan Sukamto (1999), penyakit yang timbul karena mengonsumsi makanan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu infeksi makanan dan intoksikasi (peracunan makanan).
Infeksi adalah jika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung bakteri patogen yang tumbuh dalam saluran usus dan menimbulkan penyakit. Contoh bakteri tersebut seperti C. perfringens, V. parahaemolyticus, dan Salmonella.
Hampir setiap penyakit infeksi dari Salmonella disebabkan mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. Bahan makanan yang mudah tercemar tersebut adalah kue-kue yang mengandung susu, daging cincang, sosis unggas, daging panggang, dan telur. Gejala awal yang timbul adalah nyeri kepala, muntah, gangguan pada perut, sulit buang air besar, suhu tubuh tinggi disertai batuk kering.
Infeksi virus ditularkan pada manusia terjadi dari sentuhan langsung, udara, gigitan serangga, atau melalui makanan dan minuman. Virus masuk ke makanan melalui kontaminasi primer yaitu waktu pemanenan atau penyembelihan hewan, atau secara sekunder melalui pengolahan, penyimpanan, atau treansportasi. Kontaminasi primer virus dapat terjadi pada produk daging, susu, sayuran, dan kerang. Kontaminasi selama pengolahan dan penyimpanan dapat terjadi melalui alat-alat pengolahan, air tercemar, udara, dan para pekerja.
Intoksikasi disebabkan mengonsumsi makanan yang telah mengandung senyawa beracun yang diproduksi mikroba, yaitu bakteri atau kapang. Jadi, keracunan terjadi karena menelan makanan yang mengandung racun (toksin) yang dikeluarkan organisme. Mungkin organisme tersebut mati setelah pembentukan toksin dalam makanan, tetapi toksin itu sendiri tidak dimusnahkan sehingga terjadi keracunan makanan dari makanan tersebut. Organisme yang menyebabkan makanan beracun adalah S. aureus, C. botulinum, dan B. cereus.
C. botulinum adalah bakteri gram positif, pembentuk spora berbentuk batang. Terdapat dalam tanah, air, dan sedimen air laut dan mencemari bermacam-macam makanan seperti buah-buahan, sayuran, daging, dan bahan pangan asal laut. C. botulinum menghasilkan intoksikasi klasik. Pertumbuhan organisme ini dalam bahan makanan menghasilkan racun yang cukup kuat dan mematikan.
Gejala-gejala keracunan akan tampak dalam waktu 24 sampai 72 jam setelah makan racun tersebut dengan gejala lesu, sakit kepala, dan pusing. Diare terjadi pada permulaan tetapi akhirnya penderita tidak bisa buang air besar. Sistem saraf pusat terganggu dan terjadi gangguan pada penglihatan, sulit bicara, terjadi kelumpuhan pada otot tenggorokan. Kematian dapat terjadi karena pusat pernapasan mengalami kelumpuhan.
Clostridium perfringens biasanya terdapat dalam daging mentah dan tinja hewan. Bakteri ini penyebab utama peracunan makanan. Penyakit ini disebabkan mengonsumsi makanan yang tercemari organisme tersebut dan disimpan dalam kondisi suhu yang menunjang berkembangbiaknya spora dan sel vegetatif yang menghasilkan enterotoksin pada waktu membentuk spora dalam rongga usus. Gejala keracunan timbul 8 sampai 24 jam setelah makan makanan yang tercemar. Gejala utamanya adalah sakit perut dan diare.

Melihat begitu buruknya dampak keracunan bagi tubuh, maka sudah barang tentu kita harus dapat mencegah peneybaran penyakit, baik dari zat-zat kimia (xenobiotik ) maupun dari organisme. Beberapa sumber keracunan dan pencegahannya antara lain :
1. Manusia
Hal yang perlu dilakukan seseorang untuk mencegah kontaminasi makanan adalah perlu mencuci tangan sebelum mengolah makanan karena bakteri S. aureus dapat menempel pada permukaan kulit. Mencuci tangan dapat mengurangi risiko perpindahan bakteri Salmonella dan C. perfringens dari tinja ke bahan pangan. Pada perusahaan makanan ada peraturan yang mewajibkan pekerjanya untuk mencuci tangan setelah merokok, batuk, bersin dan setelah menggunakan sapu tangan.
Menurut peraturan higienitas makanan, fasilitas pencucian tangan yaitu bak pencuci harus dilengkapi dengan air panas dan air dingin, ada sabun, penyikat kuku, tisu atau alat pengering tangan. Selain itu, pekerja tidak boleh menggunakan perhiasan dan berkuku panjang, harus memakai pakaian pelindung yang selalu dicuci secara teratur, kain penutup kepala, juga menjaga kesehatannya.
2. Lingkungan
Lingkungan yang bersih akan menunjang kesehatan, karena itu selain dapur yang harus diperhatikan kebersihannya, alat-alat pengolahan pun harus selalu dicuci secara teratur. Pencucian yang baik dilakukan dengan menggunakan suatu bak pencuci yang berisi deterjen, bak pencuci yang berisi air dingin dengan disinfektan, dan bak air pembilas. Suhu pembilas sebaiknya antara 77 - 100 oC.
Bangunan harus dirancang dengan baik yaitu dinding, atau lantai harus mudah untuk dibersihkan, selain itu harus memiliki ventilasi yang memadai.
3. Bahan makanan
Penanganan bahan makanan perlu dilakukan dengan hati-hati. Daging (sapi, kambing) dan daging unggas harus dimasak sempurna agar bakteri patogen dan sporanya mati. Waktu pemasakan harus cukup lama untuk menjamin tercapainya suhu yang dapat merusak bakteri dan spora. Jika makanan disimpan dalam kondisi panas sebelum disajikan, maka suhunya harus di atas 63oC agar bakteri tidak berkembang biak. Sedangkan dalam sajian dingin, maka suhunya adalah di bawah 10 oC sampai dihidangkan.
Jika makanan panas akan disajikan kembali belakangan, maka harus dimasak cepat sebelum diletakkan dalam lemari pendingin. Makanan tidak boleh langsung dimasukkan ke lemari pendingin karena panas akan berpindah ke makanan lain yang disimpan dan memperbanyak bakteri.
Beberapa produk makanan seperti makanan kalengan, makanan kering harus disimpan dalam lemari pendingin karena pendinginan merupakan metode untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba. Hampir semua bakteri patogen hanya mampu memperbanyak diri dengan laju yang lambat pada suhu di bawah 10 oC, karena itu makanan yang disimpan di lemari es cukup aman.
Daging dan ikan harus disimpan pada bagian yang terdingin dalam lemari es, yaitu bagian freezer. Sedangkan buah-buahan dan sayuran baik disimpan pada suhu yang sedikit lebih tinggi yaitu pada dasar lemari es. Bahan makanan yang mentah harus dipisahkan dengan makanan olahan (yang sudak dimasak) untuk menghindari kontaminasi silang bakteri penyebab keracunan makanan.
Pencairan makanan beku (ikan atau daging) harus dilakukan dengan hati-hati, yaitu makanan beku dibiarkan mencair pada suhu dingin, sebaiknya dalam lemari es. Jangan dicairkan dalam air hangat karena akan mendorong pertumbuhan mikroba.
Mikroba dan zat-zat kimia dapat menimbulkan racun atau toksik, dan semua ini tergantung pada manusia itu sendiri, apakah dapat mencegah kerusakan pada tubuh manusia itu sendiri karena adanya factor zat kimia dan mikroorganisme.



Pengolahan Limbah Protein

Limbah yang dibuang langsung ke lingkungan dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan, kesehatan manusia serta mahluk hidup lainnya. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup dan dapat membahayakan lingkungan hidup, Untuk menghilangkan atau mengurangi resiko yang dapat ditimbulkan dari limbah industri maka perlu pengelolaan secara khusus. Pengelolaan limbah ini merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi,
Sifatnya yang tidak stabil atau karena potensinya yang dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan manusia dari limbah. Ketidak stabilan tersebut dengan pengaruh luar seperti temperatur, tekanan, gesekan atau tercampur bahan lain dapat memicu timbulnya karakter bahaya dari limbah seperti sifat reaktif, eksplosif, flammable atau sifat toksik.
Masalah limbah tentunya tak bisa lepas dari adanya aktivitas proses industrialisasi. Semakin ditingkatkannya berbagai sektor industri dan sektor pertanian tentu berharap taraf hidup masyarakat kita akan dapat ditingkatkan lagi. Namun, di samping untuk mencapai tujuan tersebut namun perlu pula dipikirkan efek sampingnya yang berupa limbah. Salah satu alternatif yang bisa dikembangkan untuk mengurangi dampak dari limbah yaitu dengan proses daur ulang, salah satunya dengan metode pemanfaatan limbah menjadi konsumsi.
Mengingat pakan merupakan faktor yang paling banyak membutuhkan biaya, sekira 60-70 persen dari seluruh biaya produksi akan tersedot untuk penyediaan pakannya, maka tak ada salahnya apabila dicari pakan-pakan pengganti yang bisa dipergunakan. Salah satunya dengan membuat pakan sendiri secara sederhana dengan cara metode pemanfaatan limbah.
Jenis limbah yang dapat dimanfaatkan untuk pakan karena mengadung protein adalah :
1. Limbah Ikan
2. Limbah Tapioka
3. Limbah Tahu Tempe
4. Llimbah Tepung Aren


Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Ikan
Dalam kegiatan industri pengalengan ikan selalu menghasilkan limbah ikan yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkanuntuk membuat tepung ikan.
Tepung ikan dapat dimanfaatkan untuk campuran makanan ternak seperti unggas, babi dan makanan ikan.
Tepung ikan mengandung protein, mineral dan vitamin B. Protein ikan terdiri dari asam amino yang tidak terdapat pada tumbuhan.
Kandungan gizi yang tinggi pada tepung ikan dapat meningkatkan produksi dan nilai gizi telur, daging ternak dan ikan.
Usaha pembuatan tepung ikan dapat menggunakan limbah ikan karena relatif murah dan mudah didapat, juga menggunakan peralatan sederhana. Usaha ini diharapkan dapat menjadi produk andalan industri kecil.
Nilai Gizi
Kandungan gizi tepung ikan tergantung dari jenis ikan yang digunakan sebagai bahan bakunya. Tepung ikan yang berkualitas tinggi mengandung komponen-komponen sbb :
• Air 6-100 %
• Lemak 5-12 %
• Protein 60-75 %
• Abu 10-20 %
Selain itu karena dibuat dari kepala dan duri ikan maka tepung ikan juga mengandung :
• Ca fosfat
• Seng
• Yodium
• Besi
• Timah
• Mangan
• Kobalt
• Vitamin B 2 dan B 3
Bahan Baku Tepung Ikan
• Limbah ikan dari industri pengalengan ikan
• Ikan kurus: ikan-ikan kecil misalnya teri ( Solepherus sp )
• Ikan gemuk: ikan petek ( Leioguanathus sp )
Cara Pembuatan Tepung Ikan
1. Bahan limbah dipotong kecil-kecil dalam bak pencucian dengan air yang mengalir.
2. Dilakukan penggaraman selama 30 menit.
3. Khusus untuk ikan gemuk tambahkan air hingga terendam dan dimasak selama 1 jam. Untuk ikan kurus dimasak dalam dandang selama 30 menit, kemudian ikan yang sudah matang dimasukkan ke dalam alat pengepres.
4. Ikan yang telah di pres digiling.
5. Ikan yang telah dipres dikeringkan pada suhu 60 - 65 derajat Celcius selama 6 jam di dalam alat pengering untuk ikan basah, dan ikan kering dikeringkan dengan sinar matahari.
6. Ikan yang telah dipres dan kering digiling sampai lembut.
Tepung ikan siap dipasarkan
Bahaya Limbah
Limbah ikan jika tidak dikelola ( dimanfaatkan lebih lanjut ) akan menimbulkan pencemaran bau yang menyengat, karena proses pembusukan protein ikan. Selain itu bias menjadi sumber penyakit menular terhadap manusia yang ditularkan lewat lalat (misalnya muntaber)

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TAPIOKA
Tapioka adalah tepung dengan bahan baku ketela pohon dan merupakan salah satu bahan untuk keperluan industri makanan, industri farmasi, industri tekstil, industri perekat, dll.
Limbah cair industri tapioka dihasilkan dari proses pembuatan, baik dari pencucian bahan baku sampai pada proses pemisahan pati dari airnya atau proses pengendapan.
Limbah padat berasal dari proses pengupasan ketela pohon dari kulitnya yaitu berupa kotoran dan kulit dan pada waktu pemrosesan yang berupa ampas yang sebagian besar berupa serat dan pati.
Penanganan yang kurang tepat terhadap hasil buangan padat dan cair akan menghasilkan gas yang dapat mencemari udara.

Bahaya limbah tapioka
Limbah industri tapioka apabila tidak diolah dengan baik dan benar dapat menimbulkan berbagai masalah yaitu :
• Penyakit, misalnya: gatal-gatal
• Timbul bau yang tidak sedap
• Air limbah bila masuk kedalam tambak akan merusak tambak sehingga ikan mati.
• Estetika sungai berubah.

Penangganan limbah tapioka
Didalam kegiatan pengendalian pencemaran limbah, tidak hanya dilakukan pengolahan limbah saja, namun kegiatan untuk mengurangi jumlah limbah yang keluar dari industri juga merupakan suatu langkah yang akan membantu menurunkan beban pencemaran.
Penanganan limbah tersebut sudah harus dimulai dari tahap pemilihan bahan baku hingga akhir proses produksi, disamping itu juga pengendalian dampak setelah proses produksi. Sehubungan dengan itu maka dibutuhkan informasi pemilihan bahan baku yang bersih dari bahan pencemar, teknologi proses yang bersih yang mampu menghasilkan limbah yang sedikit, efisiensi energi proses yang tinggi, serta didukung teknologi daur ulang bahan buangan dan penanganan limbah yang sangat diperlukan.

Pemanfaatan limbah tapioka
Limbah padat dan cair dari tapioka dapat dimanfaatkan sebagai:
1. Limbah padat:
• Makanan ternak
• Pupuk
• Bahan campuran saus, sirup glukosa
• Obat nyamuk bakar
2.Limbah cair:
Minuman nata de cassava

PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TAHU TEMPE
Limbah tahu tempe adalah limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu tempe maupun pada saat pencucian kedele. Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat dan cair. Limbah padat belum dirasakan dampaknya terhadap lingkungan karena dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, tetapi limbah cair akan mengakibatkan bau busuk dan bila dibuang langsung ke sungai akan menyebabkan tercemarnya sungai tersebut.
Setiap kuintal kedele akan menghasilkan limbah 1,5 - 2 m3 air limbah.
Limbah cair :
• Sisa air tahu yang tidak menggumpal
• Potongan tahu yang hancur pada saat proses karena kurang sempurnanya proses penggumpalan
• Limbah tahu tempe keruh dan berwarna kuning muda keabu-abuan dan bila dibiarkan akan berwarna hitam dan berbau busuk.

Bahaya limbah tahu tempe
Limbah cair yang dihasilkan mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut, akan mengalami perubahan fisika, kimia, dan hayati yang akan menghasilkan zat beracun atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman dimana kuman ini dapat berupa kuman penyakit atau kuman lainnya yang merugikan baik pada tahu sendiri ataupun tubuh manusia. Bila dibiarkan dalam air limbah akan berubah warnanya menjadi coklat kehitaman dan berbau busuk. Bau busuk ini akan mengakibatkan sakit pernapasan. Apabila air limbah ini merembes ke dalam tanah yang dekat dengan sumur maka air sumur itu tidak dapat dimanfaatkan lagi. Apabila limbah ini dialirkan ke sungai maka akan mencemari sungai dan bila masih digunakan maka akan menimbulkan penyakit gatal, diare, dan penyakit lainnya.
Penanganan Limbah Tahu-Tempe
• Menggunakan alat yang dapat menghasilkan tahu yang lebih baik dan sedikit menghasilkan limbah.
• Dengan penerapan Produksi Bersih (Cleaner Production). Penataan proses produksi yang baik dari mulai tempat proses pencucian, penempatan peralatan yang tepat, penggunaan air yang bersih sehingga limbah padat maupun limbah cair berkurang.
Pemanfaatan Limbah Tahu Tempe
• Makanan ternak
• Dibuat makanan nata de soya
• Dibuat makanan kecil contohnya castangell, stick tahu
( Nurhasan & Bb. Pramudyant. 1991)

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TEPUNG AREN
Aren merupakan tumbuhan berbiji tertutup dimana biji buahnya terbungkus daging buah. Pohon aren banyak terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tanaman ini hampir mirip dengan pohon kelapa. Perbedaannya, jika pohon kelapa batang pohonnya bersih, maka batang pohon aren sangat kotor karena batangnya terbalut ijuk yang warnanya hitam dan sangat kuat sehingga pelepah daun yang sudah tuapun sulit diambil dari batangnya.
Semua bagian pohon aren dapat diambil manfaatnya, mulai dari akar (untuk obat tradisional), batang (untuk berbagai macam peralatan dan bangunan), daun muda/janur untuk pembungkus kertas rokok. Hasil produksinya juga dapat dimanfaatkan, misalnya buah aren muda untuk pembuatan kolang-kaling, air nira untuk bahan pembuatan gula merah/cuka dan pati/tepung dalam batang untuk bahan pembuatan berbagai macam makanan.
Untuk dapat diambil patinya (tepungnya), pohon aren harus sudah berumur sekitar 20 tahun. Sampai saat inipun ternyata tepung dari batang pohon aren belum ada penggantinya (tepung substitusinya), sebab tepung aren memiliki keunggulan yang khas. Oleh karena itu sudah seharusnya dipikirkan dan diambil kebijaksanaan berupa langkah nyata pengembangan pohon aren.

Cara Membuat Tepung Aren
Pembuatan tepung aren dilakukan melalui terlebih dahulu menebang batang pohon aren kemudian dipotong-potong sepanjang 1,25 - 2 meter. Potongan batang aren kemudian dipecah membujur menjadi empat bagian yang sama besarnya sehingga nampak bagian dalamnya dimana terdapat empelur yang mengandung sel-sel parenchym penyimpan tepung. Kemudian empelur dipisahkan dari kulit dalamnya, kemudian dipotong-potong menjadi 6-8 bagian, lalu digiling dengan menggunakan mesin parut. Hasil parutan berupa serbuk yang keluar dari mesin dikumpulkan kemudian diayak untuk memisahkan serbuk-serbuk dari serat-seratnya yang kasar. Proses selanjutnya adalah mengambil tepung dari serbuk-serbuk halus

Produk Dari Tepung Aren
Tepung aren dapat digunakan untuk pembuatan bermacam-macam produk makanan, terutama produk yang sudah dikenal masyarakat luas, yaitu soun, cendol, bakmi, dan hun kwe
Sumber Limbah
1. Limbah cair hasil dari proses pemarutan dan pengendapan tepung aren
2. Limbah padat yang berupa ampas serbuk dan kulit batang aren yang telah diambil kulit empelurnya.
Dampak limbah terhadap lingkungan
Limbah cair yang dihasilkan jika tidak diproses terlebih dahulu maka akan menyebabkan timbulnya bau disekitar lingkungan dan air sungai menjadi keruh kecoklatan yang disebabkan oleh proses pemarutan dan pengendapan.
Penanganan Limbah
Penanganan limbah cair dapat dilakukan mulai dari proses pemarutan hingga perendaman, dimana limbah yang dihasilkan diproses terlebih dahulu pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana dan tidak langsung dibuang ke sungai.
Pemanfatan limbah
Ampas serbuk
Limbah serbuk yang diperoleh dari serbuk yang sudah diambil tepungnya dapat dipisahkan menjadi 3 macam, yaitu serbuk-serbuk kecil, serbuk-serbuk besar, dan serat-serat panjang. Secara sederhana keseluruhan serbuk dapat digunakan untuk bahan bakar, pupuk organik pada tanaman, dan dapat memperbaiki struktur tanah. Khusus serat-serat panjang dapat digunakan untuk kasur tempat duduk (kursi atau jok mobil) dan makanan ternak (sapi, kuda) setelah diproses permentasi atau cukup dicampur dengan dedak limbah penggilingan gabah
2. Kulit batang
Pohon aren yang sudah diambil kulit empelurnya maka tinggal kulit dalam dan kulit luar batangnya. Kulit batang ini dapat digunakan sebagai bahan bakar sehingga mempunyai nilai ekonomi jika dijual. Sedangkan kulit batang pada pangkal batang pohon dapat digunakan untuk membuat tangkai kampak, tangkai cangkul dan lainnya

Kita tahu bahwa dampak yang ditimbulkan dari limbah begitu besar, terutama bagi kesehatan masyarakat apabila tidak dikelola secara sehat dan saniter. Salah satu alternatif yang bisa dikembangkan untuk mengurangi dampak dari limbah yaitu dengan proses daur ulang, salah satunya dengan metode pemanfaatan limbah menjadi konsumsi (baca; pakan) ternak.
Mengingat pakan merupakan faktor yang paling banyak membutuhkan biaya, sekira 60-70 persen dari seluruh biaya produksi akan tersedot untuk penyediaan pakannya, maka tak ada salahnya apabila dicari pakan-pakan pengganti yang bisa dipergunakan. Salah satunya dengan membuat pakan sendiri secara Jenis limbah
Metode daur ulang limbah menjadi konsumsi ternak, dengan kata lain sebagai pakan pengganti, di samping akan bisa memperkecil biaya produksi, juga dapat mengurangi permasalahan lingkungan akibat pencemaran limbah. Namun, sebelumnya dalam metode ini tidaklah semua jenis limbah bisa dimanfaatkan untuk konsumsi ternak ini. Adapun jenis limbah yang bisa dimanfaatkan, yaitu;
(1) Sampah, yaitu daun pisang atau kertas koran sebab dalam setiap 100 gram daun pisang terkandung lemak 4,31 gram protein, karbohidrat 33, 10 gram, dan kalorinya 224 kkal. Hal ini kesemuanya merupakan zat-zat yang diperlukan dalam membuat pakan yang berkualitas dalam memenuhi kebutuhan gizi ternak. Selanjutnya kertas koran, menurut penelitian bahwa ternak yang diberi kertas koran 7,5-15 persen dalam ransumnya, ternyata menampakkan penambahan berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan kontrol (ternak yang tidak diberi kertas koran).

(2) Limbah rumah tangga, contohnya sayur-sayuran, buah-buahan, tulang, ikan, telur, dan aneka jenis makanan sisa lainnya.
(3) Limbah industri, yang terdiri dari limbah peternakan, limbah perikanan, limbah pertanian, dan limbah industri makanan.
Metode pemanfaatan limbah
Pengolahan limbah dengan metode daur ulang bisa menjadi pakan pengganti dan atau dicampur dengan ransum ternak. Olahan limbah berupa sampah padat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman-tanaman penghasil pakan pengganti. Pengolahan sederhana yang lazim digunakan antara lain, yaitu dengan pengeringan, penggilingan (penumbukan), dan fermentasi.
Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kadar air bahan mikroba penyebab sakit tidak dapat hidup sehingga bahan pakan menjadi awet dan tahan lama. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran dan penggunaan alat pengering. Bahan pakan ternak dikeringkan, biasanya akan berubah warna menjadi warna cokelat.
Adapun perubahan tersebut merupakan "reaksi browning" yang dapat menurunkan nilai gizi, terutama protein. Namun, pengeringan tetap dilakukan karena volume bahan akan menjadi kecil. Dampaknya, berat bahan pun akan berkurang sehingga akan mempermudah serta menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan.
Kemudian pengolahan berikutnya adalah penggilingan atau penumbukan. Bahan pakan dikurangi ukurannya dengan menggunakan alat penggiling (penumbuk). Hasil penggilingan ataupun penumbukan bervariasi dari yang halus, seperti tepung hingga kasar (butiran pasir), disesuaikan ukuran mesh atau lubang saringan yang akan digunakan.
Sistem fermentasi
Kemudian metode pemanfaatan lainnya yaitu dengan sistem fermentasi. Adapun prinsip dasarnya adalah dengan mengaktifkan kegiatan mikroba tertentu untuk tujuan mengubah sifat bahan agar dihasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Selain itu, dalam proses fermentasi, mikroba juga memecah komponen menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh ternak serta menyintesis beberapa vitamin yang kompleks dari faktor-faktor penumbuhan lainnya, antara lain priboflavin vitamin B-12 dan provitamin A.
Dalam konteks ini, prinsip dasar dari sistem fermentasi dapat dilakukan dengan cara, di antaranya melalui, pertama, sejumlah milorganite (pupuk hasil pengomposan) dicampur dengan air bersih pada suhu 70 derajat. Setelah suhu mencapai 80 derajat, larutan milorganite diaduk-aduk dan dicampur hingga rata. Usahakan agar pH larutan selalu pada posisi 7.
Kedua, larutan didinginkan semalaman, kemudian dipanaskan kembali sampai 70 derajat celcius selama 5 jam. Larutan disaring, misalnya dengan isapan, dengan air hasil saringan diuapkan sehingga kental.
Ketiga, larutan kental tersebut kemudian diuapkan lagi pada suhu sekira 70 derajatcelcius hingga kering. Bahan inilah yang nantinya dapat dipergunakan sebagai pakan ternak yang kaya akan vitamin B-12.
Mudah-mudahan dengan metode pemanfaatan limbah ini diharapkan para peternak tidak akan lagi dipusingkan oleh perubahan harga pakan ternak di pasaran, selain itu lingkungan akan menjadi bersih dan sehat. ***

Jenis limbah
(1) Sampah, yaitu daun pisang atau kertas koran sebab dalam setiap 100 gram daun pisang terkandung lemak 4,31 gram protein, karbohidrat 33, 10 gram, dan kalorinya 224 kkal. Hal ini kesemuanya merupakan zat-zat yang diperlukan dalam membuat pakan yang berkualitas dalam memenuhi kebutuhan gizi ternak. Selanjutnya kertas koran, menurut penelitian bahwa ternak yang diberi kertas koran 7,5-15 persen dalam ransumnya, ternyata menampakkan penambahan berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan kontrol (ternak yang tidak diberi kertas koran).
(2) Limbah rumah tangga, contohnya sayur-sayuran, buah-buahan, tulang, ikan, telur, dan aneka jenis makanan sisa lainnya.
(3) Limbah industri, yang terdiri dari limbah peternakan, limbah perikanan, limbah pertanian, dan limbah industri makanan.
Metode pemanfaatan limbah
Pengolahan limbah dengan metode daur ulang bisa menjadi pakan pengganti dan atau dicampur dengan ransum ternak. Olahan limbah berupa sampah padat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman-tanaman penghasil pakan pengganti. Pengolahan sederhana yang lazim digunakan antara lain, yaitu dengan pengeringan, penggilingan (penumbukan), dan fermentasi.
Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kadar air bahan mikroba penyebab sakit tidak dapat hidup sehingga bahan pakan menjadi awet dan tahan lama. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran dan penggunaan alat pengering. Bahan pakan ternak dikeringkan, biasanya akan berubah warna menjadi warna cokelat.
Adapun perubahan tersebut merupakan "reaksi browning" yang dapat menurunkan nilai gizi, terutama protein. Namun, pengeringan tetap dilakukan karena volume bahan akan menjadi kecil. Dampaknya, berat bahan pun akan berkurang sehingga akan mempermudah serta menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan.
Kemudian pengolahan berikutnya adalah penggilingan atau penumbukan. Bahan pakan dikurangi ukurannya dengan menggunakan alat penggiling (penumbuk). Hasil penggilingan ataupun penumbukan bervariasi dari yang halus, seperti tepung hingga kasar (butiran pasir), disesuaikan ukuran mesh atau lubang saringan yang akan digunakan.
Sistem fermentasi
Kemudian metode pemanfaatan lainnya yaitu dengan sistem fermentasi. Adapun prinsip dasarnya adalah dengan mengaktifkan kegiatan mikroba tertentu untuk tujuan mengubah sifat bahan agar dihasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Selain itu, dalam proses fermentasi, mikroba juga memecah komponen menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh ternak serta menyintesis beberapa vitamin yang kompleks dari faktor-faktor penumbuhan lainnya, antara lain priboflavin vitamin B-12 dan provitamin A.
Dalam konteks ini, prinsip dasar dari sistem fermentasi dapat dilakukan dengan cara, di antaranya melalui, pertama, sejumlah milorganite (pupuk hasil pengomposan) dicampur dengan air bersih pada suhu 70 derajat. Setelah suhu mencapai 80 derajat, larutan milorganite diaduk-aduk dan dicampur hingga rata. Usahakan agar pH larutan selalu pada posisi 7.
Kedua, larutan didinginkan semalaman, kemudian dipanaskan kembali sampai 70 derajat celcius selama 5 jam. Larutan disaring, misalnya dengan isapan, dengan air hasil saringan diuapkan sehingga kental.
Ketiga, larutan kental tersebut kemudian diuapkan lagi pada suhu sekira 70 derajatcelcius hingga kering. Bahan inilah yang nantinya dapat dipergunakan sebagai pakan ternak yang kaya akan vitamin B-12.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar